August 23, 2012

Arsenal & Arsene Wenger. Kebijakan transfer yang (selalu) salah.

Di transfer window musim panas 2012, fans arsenal macam gw kembali menerima kejutan dari klub yang bermarkas di Emirates Stadium, London Utara ini. Sang kapten  Robin Van Persie dilego ke salah satu musuh bebuyutan, Manchester United. Belum habis keterkejutan yang pertama, satu-satunya gelandang bertahan murni yang dimiliki arsenal juga dijual. Alexander Song pindah ke Barcelona. Entahlah apa yang dibenak The Professor Arsene Wenger, sehingga selalu menjual pemain2 inti yang seharusnya jadi pilar utama tim. Sebagai fans arsenal, gw ga terima dengan keputusan Wenger yang  5 musim terakhir selalu menjual kapten & key player, dan rasanya semua fans arsenal pasti ngerasain hal yang sama.

Viera ke Juventus, Henry ke Barcelona, Toure ke Manchester City, Fabregas ke Barcelona, terakhir Robin Van Persie ke Manchester United. See, kapten sekaligus pemain kunci Arsenal semuanya pindah. Yang patut ditunggu musim depan, akankah kapten baru Vermaelen akan pindah juga? semoga tidak. Menilik sejarah, mereka yang memutuskan pindah bukan karena menginginkan gaji besar, tapi lebih karena menginginkan menjadi juara, apapun itu. Karena klub ini seolah-olah sudah tidak punya hasrat menjadi juara karena filosofi mereka "At Arsenal we don't buy a star. We made them". Filosofi tai untuk klub sebesar Arsenal. Hey Bung! Arsenal bukan sekolah bola! Heran, kenapa demi keuntungan bisnis semata, mengorbankan kualitas klub dan memanfaatkan kecintaan fans.

Scout Arsenal adalah salah satu yang terbaik, mereka mampu menemukan pemain entah siapa dari tanah antah berantah & menjadikannya bintang. Masalahnya adalah, begitu mereka menunjukan performa terbaiknya, klub lantas menjualnya, atau pemain itu menginginkan pergi karena Arsenal tidak pernah juara belakangan ini. Harga yang selangit saat menjual pemain hasil tempaan Arsenal menjadikan klub ini adalah yang terkaya ke-tiga di dunia dibawah Barcelona & Real Madrid. Oke mungkin Chelsea, City & Man U bertabur bintang mahal dengan gaji selangit, tapi secara finansial, Arsenal adalah klub tersehat di Premier League dengan hampir tidak memiliki hutang sama sekali.

Kebiasaan membeli pemain muda & mendidiknya menjadi bintang lantas menjualnya ini sudah menjadi tradisi sehingga klub tidak pernah benar-benar memiliki skuad yang kuat. Dan kalo kita perhatikan, klub terlalu fokus pada penyerangan, hampir tidak menyadari kalo pertahanan Arsenal adalah yang terlemah diantara "The Big Five". Selalu kebobolan, blunder barisan pertahanan, pembelian pemain kelas dua & taktik yang terlalu mengedepankan permainan menyerang yang atraktif adalah dosa Arsene Wenger yang tidak dapat dimaafkan.

Sebagai pelatih kelas dunia, tidak ada yang meragukan kecerdasan Wenger. Bagaimana Arsenal yang terus ditinggal pemain bintang tapi selalu berada di 4 besar dan bermain untuk liga champion setiap musimnya. Tapi kebiasaan belanja irit dan terlalu fokus menyerang, membuat Arsenal lama tidak menjuarai apapun.

Seandainya gw bisa memberikan saran langsung kepada Arsene "The Professor" Wenger, gw akan minta memperbaiki sektor pertahanan dan menahan para penyerang agar tidak pergi dari Arsenal. Sektor penyerangan selalu kuat seandainya tidak terus-terusan ditinggal pergi. Jadi lebih baik fokus pada pemain belakang.

Beli kiper sekelas David Seaman, pilihan yang masuk akal: Igor Akinfeev (CSKA), Rene Adler (Leverkusen) atau Hugo Lloris (Lyon). Central Defender butuh 2, pilihannya: Mats Hummels (Dortmund), Ryan Shawcross (Stoke), Kyriakos Papadopoulos (Schalke), Mamadou Sakho (PSG), Raphael Varane (Real Madrid). Bek kiri yang mungkin bisa didatangkan: Jose Angel (AS Roma), Emiliano Insua (Sporting).  Gelandang bertahan murni adalah yang posisi paling dibutuhkan Arsenal sekarang sepeninggal Alex Song. Calonnya Yann M'Vila (Stade Rennais), Marouane Fellaini (Everton), Andre Ayew (Marseille)

Dengan mendatangkan pemain bertahan kelas satu, mempertahankan penyerang yang ada dan ditambah polesan taktik tangan dingin Arsene Wenger, rasanya tidak ada yang bisa menghentikan Arsenal menjuarai EPL dan Champions League. Menurut opini pribadi gw sebagai fans Arsenal. Semoga Wenger menyadari apa yang dibutuhkan dan diinginkan fans Arsenal macam gw ini.

June 1, 2012

Aktualisasi Diri

Ketika kebutuhan pokok manusia sudah terpenuhi, dengan kesadarannya sendiri dia mulai mencari siapa dirinya. suatu tahapan natural dalam kehidupan. Timbul dari keinginan untuk ada, untuk diakui, merasa dihargai dan menjadi dirinya sendiri tanpa pernah takut dengan bombardir media dan lingkungan untuk merubah apa yang sudah menjadi keharusannya.

Kadang untuk beberapa orang, menunjukan siapa dirinya sebenarnya agar dia ADA, bukanlah suatu pekerjaan mudah seperti mengambil selimut ketika kita akan tidur. Butuh sebuah perjuangan untuk melawan ketakutan "kesepakatan bersama" tentang definisi buruk. Saya mengatakan untuk beberapa orang, karena sebagian yang lain bisa dengan tanpa beban menjadi apa yang menjadi keinginannya untuk dinilai, tanpa takut dengan "kesepakatan bersama" itu. Kesepakatan bersama yang saya maksud adalah tentang kemapanan, baik buruk, pantas, simetris, norma, status sosial, hidup ideal de el el el el.

Hal yang yang dianggap baik, pantas dan ideal timbul dari kesepakatan kelompok yang memiliki latar dan pengalaman yang sama dengan perspektif yang tidak jauh berbeda. Karenanya, menjadi beda akan menjadi kontra dari kesepakatan itu, dan akan menuai tentangan dalam kelompok itu sendiri. Apalagi bagi kita yang hidup di indonesia tercinta ini yang satu sama lain masih memiliki rasa tenggang rasa, maksud saya selain di jakarta, menjadi beda akan dianggap aneh.

Dan ketika "kesepakatan bersama" itu bersumber dari latar yang berupa dogma, sesuatu yang kita anggap sebagai aturan baku tanpa perlu dipertanyakan kebenarannya, maka menjadi beda akan menjadi lebih susah lagi. Kecuali kita memiliki dogma lain dalam diri yang bukan hanya mempertanyakan tapi juga menjadi kontra bagi dogma yang sudah ada, saya rasa melawan arus bukanlah pilihan yang baik. Karena dogma benar-benar menutup mata dan pikiran orang yang meyakininya. Dan memang untuk beberapa sumber dogma, mempertanyakannya akan menjadi jalan panjang pencarian, dimana akhirnya menjadi berbeda untuk tiap orang. Relatif.

Menjadi beda untuk ada tetaplah menjadi pilihan. Evolusi, selain timbul dari kerjasama & kemampuan adaptasi, juga didukung oleh "perbedaan". karena menjadi beda itulah, manusia tetap ada. Aktualisasi diri memang sudah menjadi kebutuhan... pokok.

January 7, 2012

Sesudah Setahun (1)

Ternyata blog ini udah lama banget nggak diurus. Daripada bingung mau nulis apa, lebih baik bingung mau moto apa. Sembari mengenang baby niken yang udah berpindah tangan, saya unggah saja hasil moto-moto yang sudah lama ini.










October 15, 2010

Heading towards the station ...

Tucked away in our subconscious minds is an idyllic vision. We see ourselves on a long, long trip that almost spans the continent. We're traveling by passenger train, and out the windows we drink in the passing scene of cars on nearby highways, of children waving at a crossing, of cattle grazing on a distant hillside, of smoke pouring from a power plant, of row upon row of corn and wheat, of flatlands and valleys, of mountains and rolling hills, of biting winter and blazing summer and cavorting spring and docile fall.

But uppermost in our minds is the final destination. On a certain day at a certain hour we will pull into the station. There sill be bands playing, and flags waving. And once we get there so many wonderful dreams will come true. So many wishes will be fulfilled and so many pieces of our lives finally will be neatly fitted together like a completed jigsaw puzzle. How restlessly we pace the aisles, damning the minutes for loitering ... waiting, waiting, waiting, for the station.

However, sooner or later we must realize there is no one station, no one place to arrive at once and for all. The true joy of life is the trip. The station is only a dream. It constantly outdistances us.

"When we reach the station, that will be it !" we cry. Translated it means, "When I'm 18, that will be it ! When I buy a new 450 SL Mercedes Benz, that will be it ! When I put the last kid through college, that will be it ! When I have paid off the mortgage, that will be it ! When I win a promotion, that will be it ! When I reach the age of retirement, that will be it ! I shall live happily ever after !"

Unfortunately, once we get it, then it disappears. The station somehow hides itself at the end of an endless track.

So, stop pacing the aisles and counting the miles. Instead, climb more mountains, eat more ice cream, go barefoot oftener, swim more rivers, watch more sunsets, laugh more and cry less. Life must be lived as we go along. The station will come soon enough.

(Found as published in Dear Abby, The Station, By Robert J. Hastings)

August 31, 2010

She's Mine

June 7, 2010

Budi Soehardi, CNN Heroes 2009


Menurut seorang Budi Soehardi, pendiri Panti Asuhan Roslin di Timor-Timur, “Para penghuni Panti kelihatan sangat ceria & bahagia, tapi sebenarnya memiliki hampir semua cerita sedih yang mungkin dialami manusia”.

“Beberapa dari bayi yang dibawa ke sini karena ibu mereka meninggal setelah melahirkannya akibat kekurangan gizi. Yang lain datang karena keadaan keluarga yang sangat miskin, beberapa yang lain datang karena keluarga yang tidak menginginkan mereka, sehingga menelantarkannya”.

Soehardi (53 tahun), seorang pilot Indonesia yang tinggal di Singapura beserta Peggy, istrinya mengurus 47 orang di panti asuhan tersebut. Mereka memiliki hubungan yang sangat dekat satu sama lain, bahkan menganggap ana-anak tersebut adalah keluarga mereka. Mereka menamai beberapa bayi yang datang ke panti asuhan itu, sejak mereka datang sebagai bayi, beberapa dari mereka adalah korban & pengungsi akibat konflik di Timor Timur.

Soehardi sendiri memiliki 3 orang anak kandung, namun menurutnya tidak ada perbedaan perlakuan terhadap 3 anak kandungnya dengan anak-anak di panti asuhan. Mereka semua mendapat tempat tinggal yang bersih, vaksinasi, makanan, pakaian dan vitamin.

“Pak Budi sudah seperti ayah saya” kata Gerson Mangi (20th) salah seorang penghuni panti. Mangi datang ke panti asuhan pada umur 12 tahun, dan tidak ada kemampuan untuk meneruskan sekolah setelah orangtuanya meninggal. Sekarang berkat Pendidikan di Roslin & seorang donatur, dia sudah bersekolah medis.

Soehardi yang ayahnya meninggal ketika berumur 9 tahun, mampu ikut merasakan penderitaan yang dialami Mangi.

“Untuk makan aja susah apalagi untuk biaya sekolah” kata suhardi. Mereka benar2 menyentuh perasaan saya dan saya ingin mereka menjalani kehidupan yang lebih baik.

Korban konflik kemerdekaan Timor Leste
Berita tentang situasi pada tahun 1999 di Timor Timur, menginspirasi Soehardi untuk melakukan sesuatu bagi mereka.

Soehardi & seluruh keluarganya sedang makan malam dan melihat berita televisi di rumahnya di Singapura, ketika dia menyaksikan banyaknya pengungsi yang keluar dari Timor-timur ke Nusa Tenggara Barat. Mereka tinggal di dalam kardus-kardus yang disulap menjadi tempat tinggal. Anak-anak mengenakan goni sebagai baju & tidak ada sanitasi.

“Itu sungguh menyentuh perasaan” kata Soehardi.

Keadaan yang menyedihkan ini terjadi setelah referendum Timor-timur untuk merdeka dan memisahkan diri dari Indonesia. Dalam referendum itu, Militia melakukan banyak kekerasan di wilayah itu. Ratusan orang meninggal dan sebanyak 250,000 orang harus meninggalkan rumah mereka sebagai pengungsi.

Keluarga Soehardi yang sebelumnya merencanakan liburan keliling dunia, namun karena melihat berita tersebut, mereka merubah rencana mereka.

Saya & istri saling pandang, dan kita masing-masing memikirkan hal itu. “Mari melakukan sesuatu yang lain. Kita mengunjungi tempat itu, untuk membuat liburan yang berbeda” kata Soehardi.

Malam harinya dia menulis E-Mail pada rekan-rekannya sampai jam 4 pagi, untuk mulai mengumpulkan sumbangan dana, makanan, pakaian & segala kebutuhan untuk para pengungsi. Dengan bantuan teman & beberapa relawan, keluarga Soehardi berhasil menembus area konflik & membawa lebih dari 40 ton makanan, alat2 kesehatan dan sanitasi ke kamp pengungsi di Timor-Timur.

Selanjutnya keluarga suhardi memutuskan untuk membuat panti asuhan bagi yatim piatu.

“Istri saya berinisiatif meminta saya untuk membuat 3 kamar. 2 jam kemudian dia meminta 5 kamar lalu 9 kamar dan akhirnya berdirilah panti asuhan ini”

Mereka menyelesaikan pembangunan panti asuhan dalam 11 bulan dan menamakannya Panti Asuhan Roslin.

Pada April 2002, panti asuhan dibuka dan menyediakan rumah bagi 4 anak. Sejak dari itu, panti asuhan diperbesar untuk kepentingan pendidikan gratis, pakaian, rumah dan makanan untuk 47 orang anak dari semua umur, mulai dari yang baru lahir sampai yang usia jenjang universitas. Setengah dari penghuni panti berusia kurang dari 8 tahun.

Panti asuhan di bangun di tanah hasil sumbangan yang mereka sangka tanah gersang.Tapi sekarang ini, nasi untuk para penghuni panti dihasilkan dari tanah mereka sendiri.

”Kami berani mengambil tantangan ini” kata soehardi mngenai proyek irigasinya. Dia dan Peggy, yang sama-sama tidak memiliki pengetahuan tentang pertanian, menggunakan 2 pompa dan generator untuk mendapatkan air dari irigasi.

Lalu mereka mulai menanam padi. ”200 hari kemudian, kami panen pertama dan menjadi pantu asuhan yang berhasil swasembada beras," katanya.

Ini adalah salah satu taktik untuk mengurangi biaya, terutama dengan kehilang pekerjaan yang dialami Soehardi karena kesulitan ekonomi.

Soehardi yang gaji pilotnya digunakan untuk menopang kelangsungan panti asuhan dan membiayai sekolah medis Mangi, berharap bahwa dengan berakhirnya kontraknya, tidak akan mempengaruhi kehidupan anak-anaknya.

“Bisa menolong anak2 ini adalah suatu kehormatan bagi saya dan istri karena ini adalah bentuk terima kasih kami atas apa yang sudah dianugerahkan pada kami”